www.putuagus6.wordpress.com

Transport & tour service 
Call us : +6285935392295
E-mai  : putuagus6@gmail.com

image

Iklan
Standar

Pengendalian diri dan etika menurut perspektif hindu darma

Hindu Dharma

Perihal

Om Svastyastu, Om Anobadrah Krtavo Yantu Visvatah — Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

Pengendalian Diri dan Etika

13 Januari 2015

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Pengendalian diri dan tindakan etis. Sifat-sifat yang dimiliki oleh orang yang memiliki sifat-sifat kedewataan adalah sifat-sifat etis karena semua itu membawa orang pada keserasian, kedamaian, dan kebahagiaan. Sifat-sifat rendah hati, tulus jujur, hormoni dan sebagainya adalah sifat-sifat etis yang baik dan benar. Ini berarti orang harus menghindarkan diri sifat-sifat keraksasaan. Usaha untuk dapat lepas dari sifat-sifat yang tidak baik ialah dengan menguasai diri sendiri. Dalam hal ini, bhagavadgita berulang ulang menyebutkan agar orang dapat menguasai indriyanya karena indriya yang menghubungkn manusia dengan dunia ini, dunia objek kesenangan. Dengan menguasai indriya maka keinginan yang timbul dari dirinya itu dapat diarahkan kepada tujuan-tujuan yang baik, yang membawa keselamatan pada dirinya sendiri.

Etika adalah bentuk pengendalian diri dalam pergaulan hidup bersama. Manusia adalah homo socius yaitu makhluk berteman. Ia tidak dapat hidup sendirian, ia selalu bersama-sama dengan orang lain. Manusia hanya dapat hidup dengan sebaik-baiknya dan manusia hanya akan mempunyai arti, apabila ia hidup bersama-sama dengan manusia lainnya di dalam masyarakat.

Pengendalian diri, etika dan toleransi merupakan pencerminan kehidupan beragama dengan kehidupan sesama baik manusia dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara bahkan pula dalam hubungan internasional antar bangsa-bangsa. Dengan pengendalian diri seseorang mampu hidup berdampingan secara rukun yang tercermin dalam etika atau tata laku sopan santun dalam pergaulan hidup.

Rumusan masalah

Adapun pokok-pokok permasalahan yang ingin diketahui dalam paper ini adalah sebagai berikut:

Apa yang dimaksud dengan pengendalian diri dan etika?Bagaimana meralisasikannya ke dalam kehidupan?Tujuan

Tujuan umum:

Penulis dapat menyelesaikan paper ini.

Tujuan khusus:

Untuk mengetahui pengertian dari pengendalian diri dan etika tersebut.Untuk mengetahui cara merealisasikannya ke dalam kehidupan.ManfaatDapat mengetahui sejauh mana pemahaman mahasiswa tentang pengendalian diri dan etika.Meningkatkan wawasan pengetahuan mahasiswa.Lebih meingkatkan daya kreativitas dalam membuat sebuah paper.

BAB II

PEMBAHASAN

Pengendalian diri

Pengendalian diri, etika dan toleransi merupakan pencerminan kehidupan beragama dengan kehidupan sesama baik manusia dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara bahkan pula dalam hubungan internasional antar bangsa-bangsa. Dengan pengendalian diri seseorang mampu hidup berdampingan secara rukun yang tercermin dalam etika atau tata laku sopan santun dalam pergaulan hidup. Kerukunan hidup akan semakin mantap bila dilandasi dengan toleransi atau penghargaan terhadap perbedaan yang dihadapi, karena perbedaan itu seperti perbedaan agama yang dianut merupakan kenyataan yang diyakini dan ajaran yang dikandungnya diamalkan oleh pemeluknya. Dengan pengendalian diri yang mantap, seseorang yang tertib dalam berlalu lintas akan berhasil mencapai tujuan dengan selamat demikian pula dengan etika dan toleransi, seseorang akan mudah bergaul dengan sesamanya walaupun berbeda agamanya, pandangan hidup akan dapat diwujudkan dan dengan keharmonisan ini ketentraman dan kebahagiaan hidup, baik dalam keluarga maupun masyarakat dapat direalisasikan. Agama Hindu dengan kandungan ajaran tentang pengendalian diri, etika dan toleransi yang sangat berguna sebagai pedoman dalam membina hubungan yang harmonis tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan Tuhan Yang Maha Esa dan semua makhluk ciptaanNya.

Pengendalian diri adalah kemampuan seseorang untuk melakukan yang tidak baik dan tidak patut dilakukan. Untuk dapat mengendalikan diri seseorang hendaknya mengenal ajaran tentang Viveka atau viveka jnana. Yang dimaksud dengan Viveka adalah kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk, salah dan benar. Yang baik belum tentu benar, sebaliknya yang benar belum tentu baik dan selanjutnya dengan pengetahuan viveka ini seseorang akan dapat mengendalikan dirinya, sebab diantara berbagai makhluk hidup dengan tegas dinyatakan hanya manusialah yang memiliki pengetahuan itu sebab, oleh karena itu menjelma sebagai manusia disebut sebagai penjelmaan utama bila dibandingkan dengan makhluk lain. Memang bila direnungkan, sesungguhnya manusia hampir sangat jarang untuk merenungkan kembali, untuk apa tujuan penjelmaan kita ini. Pertanyaan seperti itu akan muncul bagi mereka yang memiliki kepekaan untuk merenungkan kehidupan kembali. Untuk usaha ajaran agama Hindu memberikan bimbingan dan tuntunan seseorang agar berhasil meniti kehidupan di dunia ini termasuk bagaimana dia berperilaku menyingkapi dan mensiasati kehidupan yang dewasa ini sangat dirasakan kecenderungan pada material sebagaimana dinyatakan dalam kitab-kitab Purana, bahwa era jaman Kaliyuga orientasi manusia hanyalah pada materi dan kesenangan, yang tidak akan memberikan kebahagiaan yang sejati.

Bila kita hanya mengejar kepuasan materi atau kesenangan duniawi belaka maka penderitaanlah yang akan kita temui. Memuaskan kama semata diibaratkan menyiram api yang sedang berkobar tidak dengan air, melainkan dengan bensin dan akibatnya adalah api semakin membesar yang mengakibatkan kehancuran. Agama Hindu mengamanatkan untuk mewujudkan kedamaian dalam kehidupan ini. Kebahagiaan yang sejati (moksa) bukanlah khayalan, melaikan kenyataan yang dapat diwujudkan di dunia ini (melalui semadhi) yang disebut dengan jiwanmukti. Untuk merealisasikan ini banyak hal yang dilakukan, terutama dapat mentransformasikan diri kita, meninggalkan kualitas jasmani kita yang muaranya adalah sumber daya manusia.

Sumber daya manusia (menurut pandangan Hindu) tidak hanya menekankan pada kualitas jasmani dan keterampilan atau kecerdasan pikiran, melainkan adalah memupuk budi luhur sesui dengan ajaran Dharma, yang nantinya akan mampu mengantisipasi berbagai tantangan hidup dan mencapai tujuan hidup tertinggi yakni bersatunya Atman dengan Brahman yang disebut Moksa yang merupakan kebahagiaan sejati dan abadi (sukha tanpawali dukha) sangat banyak kita jumpai ajaran agama Hindu petunjuk tentang pengendalian diri termasuk pula bagaimana menggunakan viveka sehingga kita mampu menyingkapi perkembangan dunia ini.

Untuk pengendalian diri bagi setiap umat, Weda mengajarkan berbagai cara baik melalui pengetahuan filsafat/kebenaran, praktik kehidupan sehari-hari, satya brata maupun upawasa. Yang dimaksud dengan upawasa (puasa) ialah tidak menikmati boga (makanan/minuman) selama paling tidak satu hari (24 jam). Puasa dapat dilakukan lebih dari satu hari bila umat mampu melaksanakannya. Brata adalah pengendalian diri terhadap tindakan , prilaku terhadap makanan dan minuman, baik waktunya, jumlahnya maupun macamnya. Contoh brata seperti :

Makan pada waktu tertentu (yang dikehendaki) misalnya dua kali sehari yaitu sebelum matahari terbit dan setelah matahari terbenam, makan atau minum sekali sehari pada saat yang telah diniatkan.Pantang makan atau minum suatu macam makan atau minum, dalam batas waktu tertentu misalnya selama tiga bulan, enam bulan, atau setahun, dan seterusnya.

Brata bukan lantaran sakit atau alergi terhadap makanan dan minuman yang dibratakannya. Brata tidak hanya terbatas pada makan atau minum, namun juga terhadap benda-benda lain dan tindakan atau perilaku. Dengan brata atau upawasa orang melatih diri untuk mampu mengendalikan indriya atau nafsu agar dapat senantiasa berbuat shuba karma (baik) dalam hidup ini. Semakin sering orang melakukan upawas dan brata itu berarti semakin sering pula orng membersihkan dirinya dari pengarug bhoga maupun benda-benda atau lingkungan. Brata dan upawasa akan semakin mantap bila dilakukan terhadap benda-benda atau makanan dan minuman yang sering dijumpai dalam kehidupan di rumah maupun di masyarakat. Puasa dan brata dapat dilakukan kapan saja, namun lebih baik dilakukan pada hari-hari suci atau rerahinan seperti menyambut hari kelahiran, purnama/tilem, saraswati, siwalatri, galungan dan sebagainya. Puasa dan brata hanyalah proses pembersihan diri secara lahir dan batin serta tidak menghapus dosa, sebab dosa dengan sendirinya tidak akan berpengaruh lagi apabila orang telah banyak berbuat kebajikan. Untuk itu maka setelah puasa/brata diharapkan umat dapat berbuat baik (subha karma) yang banyak dan terus menerus. Dengan kemantapan puasa dan brata seseorang akan menjadi lebih tenang, sabar, tenang, bersemangat, disiplis sehat dan tahan uji. Keadaan itulah menyebabkan orang dapat banyak berbuat baik (dharma) sehingga pada akhirnya dapat memperkecil pengaruh dosa yang mungkin pernah dilakukan, sehingga pada akhirnya dosa tidak berpengaruh lagi.

Susila yang bersumber pada hati sanubari manusia, sanksi terhadap pelanggaran itu ditentukan oleh kata hati yang bersangkutan. Besar kecilnya sanksi terhadap pelanggaran tersebut sangat dipengaruhi oleh bersih kotornya perasaan hati dan kepribadian seseorang. Seseorang yang hatinya banyak dikotori oleh berbagai perbuatan buruk, bila suatu saat dia berbohong maka perbuatan bohongnya itu tidak akan menyebabkan dirinya merasa berdosa. Sebaliknya seseorang yang selalu berbuat jujur dalam hidupnya, namun pada suatu saat dia secara tidak sengaja berbuat buruk, akibatnya orang tersebut benar-benar akan merasa berdosa karena perbuatan buruknya, kendatipun orang lain tidak menghukumnya.

Dengan adanya kemampuan untuk mebeda-bedakan dan meninmbang-nimbang, maka seseorang harus dapat memilih yang baik serta benar dan menghindarkan diri dari yang buruk dan salah. Unsure-unsur yang baik dan buruk selalu berdampingan pada diri seseorang. Oleh karena itu, dia harus dapat mengarahkan kemampuan berpikirnya yang ada dalam dirinya untuk menundukkan segala yang tidak baik tersebut. Hal itu berarti seseorang harus mengendalikan diri dalam segala hal, baik dalam berpikir, berkata maupun dalam bertindak sehingga segala kemampuan itu dapat meuju kepada yang baik.

Suatu data yang terkendali menuju suatu sasaran akan menjadi tenaga yang maha hebat, baik tenaga yang menyenangkan maupun tenaga yang menakutkan. Cahaya matahari yang dikendalikan dengan lensa memusat pada satu titik, dapat membakar benda pada titik itu. Air terjun yang terkendali dengan pipa saluran tertentu dapat membangkitkan tenaga listrik yang sangat besar. Demikian pula kepentingan-kepentingan yang berlawanan pun dapat di dicapai berkat adanya pengendalian yang teratur, seperti tertib lalu lintas dan sebagainya.

Sesungguhnya benda-benda angkasa geraknya terkendali pula oleh suatu kekuatan yang maha dahsyat, sehingga lintasan-lintasannya mengikuti suatu tertib tertentu. Matahari dan bulan tidak pernah lepas dari tertib lintasannya. Demikian pula bintang-bintang dan planet-planet. Atom selalu tetap bergerak dalam lintasannya juga. Tertib demikian dalam kitab Weda disebut dengan “Rta”. Tuhan dipanggil dengan “Rtavan” artinya pendukung Rta. Manusia adalah bagian dari alam ini, ia juga harus tunduk pada Rta tersebut. Dengan tunduk pada Rta, manusia akan hidup harmonis dengan alam, dan keharmonisan membawa ketenteraman dan kenikmatan hidup. Segala apa yang kita rasakan, segala yang kita lihat, dengar dan sebagainya dari lingkungan kita, kita tanggapi sehingga sesuatu yang indah, yang manis, bila orang telah mengikuti Rta itu. Walaupun manusia harus tunduk pada rta, dirinya sendiri menjadi penghalang untuk itu. Akibatnya manusia tidak bahagia. Oleh karena demikian manusia harus dapat mengendalikan diri sendiri mengikuti tertib agama Hindu. Petunjuk-petunjuk demikian tersimpul dalam ajaran dharma. Pengertian akan dharma itu amat luas sekali. Tidak aada kata dalam bahasa Indonesia yang dapat kita pergunakan sebagai terjemahan kata itu. Namun bagaimanapun juga dapat kita katakana bahwa dharma itu adalah segala yang mendukung manusia untuk mendapatkan keselamatan, kebahagiaan.

Menolong orang, hidup damai, bekerja dan lain-lain sebagai anggota masyarakat adalah dharma kita sebagai manusia. Demikian pula makan dan minum di kala lapar dan haus, istirahat dan tidur di kala lelah dan malam hari, juga merupakan dharma sebagai manusia. Barang siapa yang melanggar dharma tersebut akan mendapatkan kehancuran. Dari uraian tadi, uraian tadi dapatlah kita ketahui bahwa dharma itu meliputi peratura-peraturan dan juga ia adalah kodrat. Karena peraturan-peraturan dan kodrat itu juga mengantar manusia menjadi yang baik maka daripada itu dharma juga adalah kebajikan.

Dengan demikian dharma mengendalikan manusia menuju kebajikan, kebahagiaan dan akhirnya untuk mendapatkan kelepasan ikatan duniawi ini. Dalam sastra agama Hindu yang paling banyak mendapat perhatian pengendalian itu adalah pikiran dan indriya, karena keduanya itu dapat menyebabkan manusia itu tidak tenang atau mengguncang-guncang diri manusia.

Indriya menghubungkan pikiran dengan dunia ini. Sesentuhan dengan dunia ini menimbulkan bermacam-macam fenomena kejiwaan dan bermacam-macam peristiwa perbuatan manusia. Dunia ini demikian menariknya, demikian indahnya sehingga pikiran manusia dininabobokan melalui indriya. Karena terikat terhadap dunia fana ini, menyebabkan dia lupa pada hakikat kemanusiaan. Maka itulah indriya harus dikendalikan agar tidak dikuasai oleh dunia ini, namun supaya sebaliknya yaitu kitalah yang dapat menguasai dunia ini. Bila indriya itu sapat dikendalikan maka ia dapat menjadi kuda-kuda yang bagus yang mengantar penunggangnya sampai ke tempat tujuan naum jika sebaliknya maka indriya itu diibaratkan kuda-kudal binal yang mengantar penunggangnya jatuh pada kesesaraan dengan demikian jelaslah bahwa pengendalian terhadap indriya itu serta menguasai atas geraknya pikiran akan membawa manusia pada keselamatan di dunia dan akhirat kelak. Dengan mengendalikan indriya, maka keinginan yang muncul darinya dapat diarahkan pada hal-hal yang bermanfaat guna tercapainya kebahagiaan lahir dan batin. Indriya itu sendiri adalah jalan menuju surge dan sekaligus jalan menuju neraka. Karena itu indriya merupakan sumber kebahagiaan dan juga sumber derita. Bila indriya itu dapat dikendalikan maka kita akan memperoleh kebahagiaan dan surga pahalanya, tapi sebaliknya bila indriya itu tidak dapat dikendalikan dan membabi buta maka seseorang akan tersesat ke lembah derita dan nerakalah pahalanya.

Manah (pikiran) sebagai rajanya indriya mempengaruhi Panca Buddhindriya (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit) dan Panca Karmendriya (tangan, kaki perut, kelamin, dubur). Misalnya mata memandang sesuatu yang menggiurkan nafsu, maka melalui caksu indriya mempengaruhi alam pikiran dan dari pikiran ini dipertimbangkan, apakah yang dilihat tadi ada hasrat (keinginan) untuk memilikinya. Jika pertimbangan alam pikiran kalang kabut, maka akan timbul usaha-usaha tercela untuk mendapatkannya. Namun bila alam pikiran itu sehat, maka usaha-usaha untuk mendapatkannya ditempuh dengan cara-cara yang halal. Dengan demikian semua tuntutan indriya haruslah disaring terlebih dahulu oleh manah dan hasilnya lalu dipertimbangkan baik-baik. Ia harus dikendalikan agar dapat membawa manfaat dalam hidup ini dan sekaligus dapat terhindar dari berbagai macam mala petaka.

Jadi semua manusia di alam hidupnya harus dapat mengendalikan diri, mengendalikan seluruh indriya itu yang senantiasa tidak henti-hentinya meminta untuk dipenuhi tuntutannya. Dalam gerak langkahnya sehari-hari manusia tercermin dalam tiga gerak perilaku manusia yang dikenal Tri Prana, yaitu idep (pikiran), sabda (perkataan), bayu (perilaku). Ketiga Prana inilah yang harus dikendalikan agar dapat terhindar dari segala perilaku yang negatif yang membawa kepada kesusahan hidup.

Di dalam kitab Sarasamuccaya dijumpai adanya sepuluh macam pengendalian diri terhadap gerak pikiran, perkataan dan perbuatan. Adapun sepuluh macam pengendalian diri tersebut adalah tiga macam pengendalian pikiran, empat macam pengendalian perkataan,dan tiga macam lagi adalah pengendalian pengendalian perbuatan.

Rincian pengendalian diri terhadap pikiran meliputi :

Tidak menginginkan sesuatu yang tidak halalTidak berpikir buruk (marah) terhadap orang lainTidak ingkar terhadap kebenaran karma phala

Pengendalian diri terhadap pikiran meliputi :

Tidak berkata mencacimakiTidak berkata kasarTidak memfitnahTidak berkata bohong atau ingkar janji

Pengendalian diri terhadap perbuatan meliputi :

Tidak melakukan perbuatan menyiksa atau membunuhTidak melakukan perbuatan mencuri atau curangTidak melakukan perbuatan perzinahan

Oleh karena nafsu atau keinginan itu muncul dari indriya, maka indriya tersebut patut dikendalikan agar ia dapat mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan bebas dari segala kesengsaraan. Mengendalikan indriya tidak berarti bahwa kita harus membunuh indriya itu sendiri, tetapi kita jangan sampai dapat diperbudak olehnya, melainkan harus sebaliknya manusialah yang harus dapat menguasai indriya itu. Tanpa nafsu atau keinginan atau juga tanpa indriya, manusia tidak bias hidup. Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) telah menganugerahkan nafsu atau keinginan dan juga indriya adalah justru untu kesempurnaan manusia itu sendiri. Dengan demikian di dalam hidupnya manusia harus selalu mengendalikan diri dengan selalu mengarahkan nafsu keinginan atau indriya-indriyanya kepada hal-hal yang baik dan bermanfaat agar senantiasa memperoleh keselamatan dan kebahagiaan hidup sebagai manusia sebagaiman yang kita kehendaki bersama.

Etika

Etika adalah bentuk pengendalian diri dalam pergaulan hidup bersama. Manusia adalah homo socius yaitu makhluk berteman. Ia tidak dapat hidup sendirian, ia selalu bersama-sama dengan orang lain. Manusia hanya dapat hidup dengan sebaik-baiknya dan manusia hanya akan mempunyai arti, apabila ia hidup bersama-sama dengan manusia lainnya di dalam masyarakat.

Tidak dapat dibayangkan adanya manusia yang hidup menyendiri tanpa berhubungan dan tanpa bergaul dengan sesame manusia lainnya. Hanya dalam hidup bersama manusia dapat berkembang dengan wajar. Hal ini ternyata bahwa sejak lahir sampai meninggal manusia memerlukan bantuan dari orang lain untuk kesempurnaan hidupnya. Bantuan etrsebut tidak hanya berupa bantuan dalam memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga untuk kebutuhan rohani.

Manusia sangat memerlukan pengertian, kasih sayang, harga diri, pengakuan dan tanggapan-tanggapan emosional yang sangat penting artinya bagi pergaulan dan kelangsungan hidup yang sehat. Semua kebutuhan ini hanya dapat diperoleh dalam hubungan dengan manusia lain dalam masyarakat. Inilah kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Tak ada seorangpun dapat mengingkari hal ini, karena ternyata bahwa manusia baru dapat disebut manusia dalam hubungannya dengan orang lain, bukan dengan kesendiriannya.

Dalam kehidupan bersama manusia harus mengatur dirinya bertingkah laku. Tak ada seorangpun boleh berbuat seenak hatinya. Ia harus menyesuailakn dirinya dengan lingkungan, serta tunduk kepada aturan bertingkah laku yang berlaku. Dengan demikian maka seseorang hanya bebas berbuat dalam ikatan aturan tingkah laku yang baik.

Aturan-aturan untuk bertingkah laku yang baik disebut tata susila. Nama lainnya adalah etika. Bila itikad beretika masih dalam taham angan disebut budi baik dan bila diwujudkan dengan tindakan disebut budi pekerti yang baik. Dalam etika seseorang dinilai dari tingkah lakunya, baikkah perbuatan seseorang tersebut atau burukkah.

Dalam hubungan tingkah laku dapat dinilai pada tiga tingkatan. Tingkat pertama, semasih dalam bentuk angan atau niat. Tingkat kedua, sudah berbentuk pekerti yaitu perbuatan nyata. Dan tingkat ketiga, adalah akibat yang ditimbulkan oleh pekerti itu. Hasil tersebut boleh jadi hasil baik, boleh jadi hasil buruk.

Isi angan atau niat itulah yang direalisasikan ke dalam suatu perbuatan. Dalam realisasinya dapat terjadi empat variable, yaitu :

Tujuan baik, tetapi cara pencapaiannya tidak baik. Misalnya orang yang ingin anaknya diterima menjadi murid sebuah sekolah. Tujuan baik tetapi dengan cara menyogok guru sekolah itu.Tujuan tidak baik, namun cara pencapaiannya baik. Perbuatan seperti ini banyak sekali kita dapat temui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang tampaknya ramah, manis dan sebagainya guna dapat menipu orang lain.Tujuan tidak baik, cara pencapaiannya pun tidak baik. Ini adalah praktek-praktek penjahat, perampok dan sebagainya dalam mencapai tujuannya dengan jalan-jalan kekerasan, misalnya dengan jalan membunuh, menganiaya dan sebagainya.Tujuan baik cara penyampaiannya pun baik juga. Contohnya mau lulus ujian, syaratnya adalah belajar yang sungguh-sungguh, bukan dengan menyogok panitian ujian.

Apa yang disebut baik dan apa yang disebut buruk sangat sulit dirumuskan. Walaupun demikian manusia tahu apa yang disebut baik dan buruk itu. Berbohong, mencuri adalah perbuatan yang buruk. Menolong adalah perbuatan baik. Kesadaran akan adanya baik buruk itu disebut kesadaran etis. Tetapi apa yang baik itu tidak selalu benar dan apa yang disebut buruk itu tidak selalu salah. Untuk menentukan manakah perbuatan yang benar dan manakah perbuatan yang salah, agama Hindu mengajarkan agar di dalam bertingkah laku yang baik itu perpedoman pada Tri Pramana, yaitu tiga ukuran.

Di bawah ini diuraikan beberapa Tri Pramana, yang perlu dipakai pedoman dalam bertingkah laku yang baik sebagai berikut:

Desa, Kala dan Patra

Desa, kala dan patra merupakan ukuran-ukuran untuk menentukan salah dan benar. Desa artinya tempat, kala artinya waktu dan patra artinya keadaan. Apa yang benar pada suatu waktu belum tentu benar pada waktu yang lain. Demikian pula apa yang benar pada suatu tempat atau keadaan dapat berubah menjadi salah pada tempat atau keadaan yang lain. Misalnya menyanyi untuk hiburan adalah benar, tetapi menyanyi disamping orang-orang yang sedang sakit akan diusir oleh karena perbuatan itu adalah perbuatan yang salah. Demikian pula menhidangkan es apad waktu malam yang dingin akan diterima orang dengan enggan, namun bila dihidangkan pada waktu-waktu yang panas terik akan disamputnya dengan gembira. Dari contoh-contoh tadi nyatalah bahwa apa yang disebut orang tindakan yang salah bila mana tindakan itu tidak sesuai dengan tempat, waktu dan keadaan. Maka dari itu setiap bertindak patutlah tindakan itu sesuai dengan desa, kala dan patra (tempat, waktu dan keadaan). Tentu saja penyesuaian itu harus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sehat.

Pratyaksa, Anumana dan Agama

Dapat pula dipertimbangkan benar salah perbuatan kita atas dasar pratiaksa, anumana dan agama. Pratyaksa adalah memperoleh kebenaran melalui pengamatan secara langsung. Anumana adalah memperoleh kebenaran dengan melakukan pertimbangan dengan rasio/logika sebelum mengerjakan sesuatu. Agama adalah memperoleh kebenaran atas dasar pertimbangan orang lain yang dapat dipercara utamanya orang suci.

Sastratah, Gurutah dan Swatah

Disamping ukuran-ukuran lain, ada lagi pertimbangan yang dapat dipergunakan untuk mendapatkan kebenaran yaitu atas dasar sastratah, gurutah dan swatah. Sastratah ialah pertimbangan atas dasar ajaran-ajaran sastra. Gurutah ialah pertimbangan atas dasar ajaran-ajaran guru. Dan Swatah ialah pertimbangan atas dasar belajar sendiri, pengalaman dan sebagainya.

Karena penentuan baik dan buruk atau salah dan benarnya perbuatan tersebut atas dasar pertimbangan-pertimbangan, hal itu berarti bahwa ada factor kesengajaan untuk memilih yang baik dan tidak memilih yang buruk. Orang yang dalam tidur nyenyak mendengkur, tak akan dikatakan bahwa ia mendengkurnya itu sengaja. Ia tak tahu bahwa ia mendengkur dan sekiranya ia dapat memilih, ia lebih suka tidak mendengkur. Tahu dan memilih, merupakan dua hal yang selalu menuntut adanya penilaian moral. Bagi anak kecil yang belum tahu, tak ada penilaian etis yang sebenarnya. Sasaran pandangan etika khusus kepada tindakan-tindakan manusia yang dilakukan dengan sengaja.

Manusia adalah mkhluk terbatas, maka tindakannya di dalam memilih itupun terbatas pula pada kemanusiaannya. Hal itu berarti bahwa ia tidak dapat memilih sebebas-bebasnya. Maka dari itu agama Hindu mengjarkan bahwa pada dasarnya hakekat manusia itu adalah baik. Sang Hyang Atma yang menjadi inti hidup itu adalah suci, jujur dan tak mau mengakui yang buruk itu baik. Maka dalam memilih seseorang supaya mengikuti bisikan sang hyang Atma, bisikan kata hatinya yang jujur itu. Nilai atas pilihannya pada yang baik dan benar itulah yang akan menentukan nilai pribadi seseorang, bukan karena kekayaan, kepandaian atau keturunan.

Manusia pada dasarnya mempunyai kecenderungan baik dan buruk. Sifat-sifat itu dinyatakan dalam subha karma (perbuatan baik) dan asubha karma (perbuatan buruk). Yang digunakan mengukur baik dan buruk itu adalah dharma. Dharma mengatur kehidupan di dunia (dharmena vidhrta prajah). Dharma artinya hokum yang mengatur kehidupan manusia. Dharma merupakan perintah Tuhan. Sedangkan lawan dari dharma adalah adharma (yang bertentangan dengan dharma), merupakan larangan Tuhan sumbernya asubha karma. Orang yang melakukan perbuatan baik (subha karma) disebut sadhujana atau sang sajnana. Orang sadhujana adalah orang sabar, tidak sabar, tidak memikirkan akan cacat cela orang. Hanya kebajikan sajalah yang dikerjakan, terutama kasih saying terhadap sesame hidup. Sedangkan orang yang bertabiat buruk disebut dursila, durjana atau orang papa.

Pengendalian Diri Melalui Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional adalah salah satu kecerdasan manusia yang saat ini sangat diperlukan dalam upaya mengendalikan diri dengan cara mengendalikan emosi. Emosi sendiri menurut oxford English dictionary adalah setiap kegiatan atau pengolahan pikiran, perasaan, nafsu pada setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Menurut Daniel Goleman dalam bukunya Emotoinal Intellegence (hal. 411-412), emosi dikelompokan ke dalam beberapa golongan yaitu: amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan juga mau. Secara umum emosi bias bersifat positif diantaranya yaitu rasa senang, cinta kasih, kehati-hatian, bahagia dan juga bias bersifat negative misalnya rasa iri, dengki, rasa marah, ketakutan dan lain sebagainya.

Emosi yang muncul sebetulnya dapat menjadi sumber energi, semangat manusia yang sangat kuat, tergantung bagaimana cara mengelola emosi tersebut sehingga bias sebagai energi pengaktif untuk aktivitas kehidupan kita sehati-hari, serta nilai yang ada pada etika profesi misalnya empati, intelegensi, kredibilitas, keuletan, saling percaya dan juga untuk hubungan sosial lainnya. Untuk memcapai kondisi tersebut yang perlu dilakukan hanya dengan menggunakan kecerdasan, karena dengan cerdas emosi kita akan dapat mengelola emosi dengan baik dan terarah. Orang yang mempunyai kecerdasan emosional adalah mereka yang sudah mampu mengenali, mengelola, mengarahkan, memanfaatkan, dan mengoptimalkan emosi kita, serta mampu mengenali emosi orang lain juga mampu membina hubungan dengan orang lain. Karena kecerdasan emosional itu bukan muncul dari pemikiran intelek yang jernih tetapi muncul dari hati nurani, sehingga apapun yang muncul dari perasaan akan selalu memberikan informasi penting yang memotivasi kita untuk mencari potensi yang kita miliki serta dapat menggunakannya secara baik dan benar. Meskipun kecerdasan emosional ini sifatnya dinamis, tidak tetap dan bias berubah setiap saat, tetapi bila kecerdasan ini konsisten dimiliki, semakin tua orang akan menjadi semakin bijaksana. Kecerdasan emosional tersebut sangat bermanfaat bagi semua golongan umur di semua strata kehidupan, diantaranya dapat membuat orang tidak deperesi, tidak cepat putus asa, tidak membuat iplusif dan agresif, tidak cepat puas, tidak egois, selalu terbuka pada kritukan, terampil dalam melakukan hubungan social, tidak mudah marah dan lain sebagainya, dan ini semua tentu akan berdampak positif untuk menghilangkan social problem sebagai dampak negative globalisasi yang saat ini banyak terjadi di masyarakat. Karena kecerdasan emosional itu berkaitan dengan integritas dan keunggulan pribadi yang harus dikembangkan sejak dini, maka harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan, untuk itu memulainya harus dari dalam lingkungan keluarga, selanjutnya di berbagai lingkungan sosial lainnya.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Sikap susila adalah usaha seseorang dalam mengendalikan diri, memilih yang baik dan benar serta menghindarkan diri dari hal-hal yang buruk dan salah. Usaha itu dapat tercermin dari kemampuan seseorang mengendalikan diri dalam segala hal, baik dalam pikiran, berkata maupun dalam bertindak. Seseorang yang dapat mengendalikan dirinya secara sempurna akan mendapatkan pahala yang besar atau kebahagiaan lahir batin. Manusia harus dapat mengadakan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Karena ia itu adalah makhluk berteman. Artinya manusia tidak akan dapat hidup dengan sempurna tanpa manusia lainnya di dalam masyarakat. Hal itu karena ternyata sejak kecil sampai meninggal manusia memerlukan bantuan orang lain untuk kesempurnaan hidupnya. Oleh karena itu dia harus mengatur dirinya dalam bertingkah laku, yang tentu harus bertingkah laku yang baik yang disebut tata susila. Tingkah laku itu dapat dinilai dalam tiga tingkatan yaitu dari tingkat semasih dalam bentuk angan, sesudah berbentuk pekerti dan akibat yang dapat ditimbulkan oleh pekerti tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, Gede Rudia. 2003. Pengetahuan Dasar Agama Hindu. Jakarta: PT. Pustaka Mitra Jaya.

Awanita, Made dkk. 1995. Sila dan Etika Hindu. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha.

http://www.bkkbn.go.id/artikel/pages/pengendalian-diri-melalui-kecerdasan-emosional.aspx

http://www.hindu-dharma.org/2009/07/pengendalian-diri-etika-dan-toleransi.html

Takwan, I. 2009. Dasar-dasar Budi Pekerti. Surabaya: Paramita

Standar

Sejarah pulau Bali dan Jawa terpisah oleh selat Bali (segara rupek )                              menurut kitab   ‘usana Bali ‘

Sejarah Pulau Bali dan JawaInputbali,- Pulau Bali dan Jawa yang kini dipisahkan oleh Selat Bali / Segara Rupek. Yang konon dulunya Pulau Bali dan Jawa menjadi satu kepulauan. Apakah itu mungkin? mungkin kalian akan berfikir itu adalah sesuatu yang mustahil. Kita akan membahasnya mulai dari cerita yang turunkan dari kakek nenek leluhur.

Mulai dari kisah Resi Markandeya  yang membawa rombongan sebanyak 4000 pengikut untuk membangun Pura Besakih. Dalam kisah itu diceritakan bahwa mereka menuju Bali tanpa menyeberangi sebuat Selat Bali menggunakan perahu karena pada saat itu pulau bali dan jawa masih menjadi satu. Kemudian terdapat sebuah kisah dalam sejarah Nusantara ini, bagaiamana Pulau Bali dan Jawa akhirnya terbelah dipisahkan oleh Selat Bali.  ‘

Menurut uraian sebuah kitab bernama “Usana Bali” , bahwa putusnya pulau Jawa dengan pulau Bali, adalah disebabkan kesaktian seorang Pendita bernama Mpu Sidhimantra.  Pendita itu bertempat tinggal; di Jawa Timur, kersahabat karib dengan seekor ular besar yang bernama  “NAGA  BASUKIH “   Naga itu berliang didesa Besakih yang terletak dikaki Gunung  Agung, merupakan sebuah goa  besar yang dianggap suci. Karena persahabatan itu  Mpu Sidhimantra setiap bulan purnama selalu datang ke Besakih bertemu Naga Basukih dengan membawa madu, susu dan mentega, untuk sahabatnya itu. Mpu Sidhimantra mempunyai anak bernama Ida Manik Angkeran, anaknya tersebut sangatlah suka berjudi meski sudah dilarang oleh ayahnya. Ida Manik Angkeran akhirnya pun sering mengalami kekalahan saat berjudi.

Pada saat bulan purnama kembali tiba Mpu Sidhimantra mengalami jatuh sakit. Sehingga  secara diam-diam  Ida Manik Angkeran tanpa ijin orang tuanya pergi ke Bali menemui Naga Basukih. Sampai disana ia lalu duduk bersila sambil membunyikan  “bajra”  yang dibawanya itu sehingga Naga Basukih keluar dari liangnya. Atas pertanyaan ular besar itu, Ida Manik Angkeran lalu menerangkan, bahwa ayahnya masih sakit, oleh karena itu ia menjadi wakilnya membawa madu, susu dan mentega, yang biasa dihidangkan oleh ayahnya setiap bulan. Naga Basukih dengan senang hati menerima pemberian dari Ida Manik Angkeran. Kemudian Naga Basukih bertanya kepada Ida Manik Angkeran , apakah yang diinginkan untuk bekal dalam perjalanan pulang. Ida Manik Angkeran tidak meminta apapun hanya meminta silahkan Naga Basukih kembali masuk kedalam Goa terlebih dahulu.

Ketika itulah Ida Manik Angkeran melihat sebuah permata yang indah berada di ekor Naga Basukih. Dia pun berpikir permata itu akan cukup digunakan untuk bisa berjudi seumur hidupnya. Akhirnya Ida Manik Angkeran nekat memotong ekor dari Naga Basukih dan mengambil permatanya kemudian lari. Akan tetapi akhirnya Ida Manik Angkeran mati karena hangus terbakar di dihutan  “Camara Geseng”  karena jejak kakinya dapat dijilat oleh kemarahan Naga Basukih.

Mpu Sidhimantra yang khawatir anaknya berhari-hari tidak pulang tanpa ada kabar. Akhirnya pun pergi mencarinya. Naga Basukih pun bercerita kepada Mpu Sidhimantra tentang apa yang sudah terjadi pada anaknya. Naga Basukih pun mengatakan bahwa anaknya bisa hidup kembali akan tetapi harus mengabdi di Pura Besakih sebagai abdi pura “pemangku” dan tinggal selamanya di Bali.  Mpu Sidhimantra pun menyetujuinya dan anakanya kembali hidup.

Mpu Sidhimantra kembali ke Jawa untuk mencegah suatu waktu Ida Manik Angkeran kabur kembali ke Jawa  lalu digoreskanlah tongkatnya, sehingga daratan pulau Bali dengan pulau Jawa menjadi putus  karenanya. Demikianlah ceriteranya, asal mulanya ada Selat Bali yang disebut  “SEGARA RUPEK”

Kisah tadi merupakan sebuah penjelesan terpisahnya Pulau Bali dan Jawa, meski termasuk sebuah kisah takhayul ataupun dongeng akan tetapi kenyataannya adalah Keturunan Ida Manik Angkeran itu disebut  “Ngurah Sidemen”  ternyata sampai kini berkewajiban menjadi  “Pemangku”  di Pura Besakih.

Sedangkan penjelasan secara ilmiah menyebutkan bahwa pada zaman dahulu sebagian besar kepulauan Indonesia belum ada, masih bersatu dengan benua Asia, maka pada suatu ketika yaitu pada achir  zaman es, konon katanya gunung-gunung es  yang terdapat dikutub Utara dan dikutub  Selatan menjadi cair, sehingga permukaan laut naik dan merendam daerah-daerah yang rendah.  Oleh karena itu terjadilah lautan Tiongkok Selatan, laut Jawa,  dan Selat Malaka. Kemungkinan ketika itulah terjadinya Selat Bali itu, lantaran dataran disana rendah, turut terendam air laut  yang sedang pasang itu.  Jika memang demikian halnya, sudah tentu putusnya Pulau Bali dengan Pulau Jawa itu terjadi beberapa ratus abad  sebelum tahun Masehi.

Demikianlah kisah-kisah dan penjelasan yang dapat dikaitkan tentang Sejarah Pulau Bali dan Jawa Yang Dulu Menjadi Satu.

#ilovebali

Standar

image

www.putuagus6.wordpress.com

Gambar